RoD

If I don't answer your calls, I'm either reading, or, dying

Showing posts with label Pidi Baiq. Show all posts
Showing posts with label Pidi Baiq. Show all posts

Saturday, April 2, 2016

[REVIEW] Dilan Bagian Kedua: Dia Adalah Dilanku Tahun 1991 – Pidi Baiq

25857857
Judul: Dilan Bagian Kedua: Dia Adalah Dilanku Tahun 1991
Pengarang: Pidi Baiq
Bahasa: Indonesia
Penerbit: Pastel Books
Diterbitkan pertama kali: 2015
Jumlah halaman: 344hlm
ISBN: 978-602-7870-99-4
Sinopsis:
“Jika aku berkata bahwa aku mencintainya, maka itu adalah sebuah pernyataan yang sudah cukup lengkap.”
―Milea
“Senakal-nakalnya anak geng motor, Lia, mereka shalat pada waktu ujian praktek Agama.”
―Dilan

Jadi…
Sebenernya, aku udah baca ini sejak November tahun lalu, lol. Baru kesampaian dibuat review-nya sekarang.
Well, aku ingat betul kalau aku pernah menganggap Dilan sangatlah boyfriend materials. Iya, itu zaman-zaman Dilan buku pertama. Waktu itu aku juga kemakan gombalan cheesy-nya Dilan.
Tapi, serius, buku kedua Dilan ini sangat mengecewakan.
Buku pertama Dilan adalah masa-masa Milea dan Dilan PDKT, alias masa-masa termanis dalam suatu hubungan. (( JIAH. )) Dan buku kedua adalah masa-masa Milea dan Dilan pacaran, yang mana memiliki banyak konflik.
Meskipun Dilan masih tetap menyemburkan rayuan-rayuan cerdasnya yang bikin meleleh, drama yang ada di sini bikin aku sebal sampai hampir muak. Aku sukses jadi benci dengan Milea. Aku merasa kalau Milea ini hanyalah cewek cantik biasa yang karena itu banyak cowok yang suka sama dia. Cuma karena cantik. Selain itu, menurutku enggak ada lagi daya tarik dia. Sudah gitu, dia ini lebih banyak diam dan pasrah soal cowok.
Maksudku gini, Milea tuh terlalu enggak-enakan. Dari buku satu udah keliatan sih. Dia sama Bani, sama Kang Adi dan sama Yugo, dia milih buat tahan-tahan dulu, mau aja diajak jalan kesana kemari dan bukannya nolak. WHAT THE HELL??????? Kasihan Dilan.
Makanya pas baca Dilan Bagian Kedua ini, aku tidak henti-hentinya cursing pada Milea atau minimal teriak ‘WOY APA-APAAN NIH’.
Sudah gitu ya, menurutku Milea terlalu mengekang Dilan. Beneran. Ngerti sih, dia mungkin ngelakuin itu karena rasa sayangnya, tapi- yaampun, kalau terlalu ngekang juga kan nyebelin. Dilan bukan anjing.
Di buku ini juga dijelaskan kenapa pada akhirnya Milea malah nikah sama orang lain bukan sama Dilan dan kenapa dia bisa pisah sama Dilan.
Oh, selain Milea, ada lagi tokoh yang menggangguku. Bundanya Dilan. Well, bisa dibilang Bunda adalah sosok ibu mertua idaman. Tapiiiiiiii, menurutku Bunda ini terlalu, apa ya, terlalu membiarkan anaknya.
Gini, Dilan itu anak geng motor, sering berantem, pernah dipenjara, dan dikeluarkan dari sekolah, tapi Bunda seperti bersikap ‘yaudahlah’ aja setiap Dilan kenapa masalah. YaAllah, Bunda, aku jadi Dilan mah pedih, Bunda begitu tsadeeeeest. :”((((
Untuk keseluruhannya sih, lumayan baik-baik aja. Aku gak menemukan typo, entah kurang teliti atau emang gak ada. Sinopsisnya, hm ini letak kekurangan. Biasanya, kalau mau beli novel, aku akan melihat blurb di belakang buku. Tapi, isi blurb Dilan ini gak ada apa-apanya selain kutipan isi buku. Gak ada ringkasan ceritanya. Bikin ragu juga sebenarnya kalau nemuin novel kayak gini. Aku jadi gak bisa nebak gimana isinya, apa ceritanya.
Well, karena Dilan dan Dilan Bagian Kedua dari sudut pandang Milea, aku penasaran gimana sebenarnya isi hati dan sudut pandang Dilan. Dengar-dengar, Pidi Baiq akan merilis ‘Milea’, kisah Dilan-Milea dari sudut pandang Dilan sendiri. Baru rumor, sih, tapi ya semoga aja bener, ayo kita semua berdo’a agar jadi nyata? HEHEHE.
Tiga tengkorak untuk Dilan Bagian Kedua.
skl3

Kutipan-kutipan
– “Kamu pikir bandel itu gampang? Susah. Harus tanggung jawab sama yang dia udah perbuat” – Dilan.
– “Ah, gak apa-apa pacaran sama kamu juga, deh. Asal kamunya tetep ada di bumi, udah cukup, udah bikin aku seneng” – Dilan.
– “Kalau kamu ninggalin aku, itu hak kamu, asal jangan aku yang ninggalin kamu. Aku takut kamu kecewa” – Dilan.
– “Neil Armstrong pasti kecewa, udah capek-capek jadi Neil Armstrong, eh gak pacaran sama kamu. Ngapain jauh-jauh ke bulan?” – Dilan.
– “Kayaknya neraka menjadi jauh lebih baik dibanding dengan dirinya” – Milea.
– “Dimulainya berpacaran tidak harus diungkapkan dengan pernyataan. Nyatain cinta itu gak penting, yang penting itu tindakan” – Yugo.
– “Semua sikapku ke kamu, bahkan ketika aku marah, bahkan termasuk ketika aku kesal, bahkan termasuk ketika aku jengkel, kamu harus tahu bahwa itu semua bersumber dari aku yang sangat mencintai dirimu” – Milea.
– “Bayangkan, di saat kita sedang mencintai seseorang, pasti kita akan cenderung untuk bisa memberikan perasaan kita sepenuhnya, dan manakala seseorang itu pergi, rasanya seperti bagian dari kita telah lenyap” – Milea.
– “Itu adalah masa lalu yang indah, yang kuanggap sebagai hadiah darimu” – Milea.
-nafadyas-
Share:

Wednesday, November 11, 2015

[REVIEW] Dilan: Dia Adalah Dilanku Tahun 1990 – Pidi Baiq

22037542
Judul: Dilan: Dia Adalah Dilanku Tahun 1990
Pengarang: Pidi Baiq
Bahasa: Indonesia
Penerbit: Pastel Books
Diterbitkan pertama kali: 2014
Jumlah halaman: 332hlm
ISBN: 978-602-7870-41-3
Sinopsis:
“Milea, kamu cantik, tapi aku belum mencintaimu. Enggak tahu kalau sore. Tunggu aja” (Dilan 1990)
“Milea, jangan pernah bilang ke aku ada yang menyakitimu, nanti, besoknya, orang itu akan hilang.” (Dilan 1990)
“Cinta sejati adalah kenyamanan, kepercayaan, dan dukungan. Kalau kamu tidak setuju, aku tidak peduli.” (Milea 1990)
Jadi…
Awalnya, aku tahu novel ini dari kicauan beberapa orang di Twitter. Mereka begitu memuja Dilan dan bla-bla sebagainya. Dan aku penasaran, sekeren itu kah, novel ini? Aku memutuskan untuk membelinya. Tapi, sesampainya di toko buku, aku mengurungkan niatku karna ternyata sinopsis buku ini hanya terdiri dari kutipan-kutipan (yang ada di dalam buku). Enggak jadi deh, aku kan, enggak bisa menebak isi bukunya kalau cuma ada kutipan-kutipannya saja. :c Malas juga kalau nanti sudah beli, malah mengecewakan.
Dan akhirnya … aku memilih untuk pinjam saja. :c #AnakPinjaman
Novel ini menceritakan tentang seorang cowok bernama Dilan, melalui sudut pandang Milea,
mantan pacarnya. Nah, itu menarik. Karna tokoh Dilan ini romantis (banget dan bikin baper parah) aku rasa bakalan aneh dan terkesan narsis banget kalau novel ini diambil dengan sudut pandang Dilan.
Aku akui, memang wajar kalau para pembaca (terutama cewek) jadi tergila-gila pada Dilan. Dia itu manis banget! Sumpah, aku senyum-senyum sendiri bacanya. Cara dia mendekati Milea itu kocak tapi manis dan tulus. Dia penuh kejutan yang enggak biasa. Emang dasar Dilan ini jago banget bikin melting.
Aku suka gaya menulis Ayah Pidi, ringan dan gampang dimengertinya. Dan enggak bertele-tele juga. Penokohannya kuat. Biasanya, aku malas baca novel cinta-cintaan dari Indonesia (bukan terjemahan) karna ceritanya belibet dan terlalu drama. Tapi Dilan enggak, atau setidaknya menurutku gitu. Ceritanya simpel, cinta-cintaan anak SMA, tapi punya daya tarik yang kuat dan alurnya mudah diikuti.
Dan humornya! Sebagai Komunitas Humor Receh (( apaan )) aku sangat menikmati humor-humor di novel ini. Mungkin bagi orang lain, lawakan Dilan sangatlah garing (aku akui, beberapa emang garing) tapi berhubung … yah, selera humor rendahan, menurutku lucu.
Aku rada kecewa di bagian terakhir-terakhirnya. Entah kenapa, di halaman-halaman terakhir aku merasa kehilangan minat. Terlalu … apa ya, terlalu biasa. Dilan dan Milea jadian lalu, bersambung. Mungkin maksud Ayah Pidi adalah untuk membuat pembaca penasaran dengan kelanjutan ceritanya, tapi menurutku, di situlah minus-nya. Endingnya tidak boom, tidak mengejutkan.
Tapi aku tetap mencintai
Dilan novel ini.
Gombalan-gombalan yang ada di novel ini bisa dipraktikan saat PDKT. :c Dan sama seperti orang lain, aku juga jatuh cinta pada Dilan dan berharap bisa punya pacar seperti Dilan. Meski menurutku, rasanya akan aneh atau justru norak kalau orang lain mengucapkan gombalan-gombalan itu. Memang hanya Dilan yang cocok memberi rayuan seperti itu. Huehehe.
Well, aku beri empat tengkorak untuk lawakan Dilan yang kerupuk banget. =))
skl2

Kutipan-kutipan
“Nanti kalau kamu mau tidur, percayalah, aku sedang mengucapkan selamat tidur dari jauh. Kamu gak akan denger” – Dilan.
“Siapalah aku ini. Dan dia bukan pacarku, apa urusanku memikirkan diri dan kehidupannya, tapi aku tidak tahu mengapa ingin selalu mengetahui dirinya dengan lebih jauh lagi” – Milea.
“Risiko tinggi mencintaimu” – Dilan.
“Aku gak tahu! Aku gak tahu! Termasuk aku gak tahu kenapa hal itu membuat aku jadi sedih!” – Milea.
“Apa yang dia lakukan benar-benar istimewa, sesuatu yang berbeda yang tidak pernah terpikir orang lain. Sesuatu yang selalu berhasil untuk membuatku merasa sangat dicintai, merasa sangat dihargai dengan cara istimewa dan dengan cara yang tidak biasa” – Milea.
“Aku tidak bisa mengatakan bahwa saat itu aku sudah mencintainya tapi kupikir aku sedang menuju ke sana” – Milea.
“Aku merasa tidak perlu meminta maaf kepadamu untuk bilang: Kau adalah pecundang dan harus masuk rumah sakit jiwa secepat mungkin, atau ditendang dengan keras sampai terlempar ke luar angkasa!” – Milea.
“Cowok macam apa yang pengen make jaket punya cewek! Katanya gengster, tapi obsesinya malah pengen jadi waria” – Milea.
“Aku ingin pacaran dengan orang yang dia tahu hal yang aku sukai tanpa perlu kuberitahu, yang membuktikan kepadaku bahwa cinta itu ada tetapi bukan oleh apa yang dikatakannya melainkan oleh sikap dan perbuatannya” – Milea.
“Dia juga selalu membuat aku ketawa dan jadi seru rasanya hidup di bumi. Jadi betah. Seolah-olah cukup hanya dengan memilikinya maka yang lain tak lagi kubutuhkan” – Milea.
“Maafkan mantanku” – Milea.
“Atheis berdoa? Ah, dia pasti bercanda! Tapi, aku tidak ketawa” – Milea.
“Tugasku membuat kamu senang” – Dilan.
“Jangan karena jadi guru berbuat seenaknya” – Dilan.
“Ya, kita tidak bisa mengkritik tanpa lebih dulu memahami apa yang kita kritik itu. Termasuk kita tidak bisa menghakimi anak remaja tanpa kita memahami kehidupannya” – Bunda.
“Ya, orang beda-beda. Ada yang kayak kamu. Ada yang kayak aku. Ada yang kayak mereka. Kamu ingin  semua orang kayak kamu?” – Dilan.
“Mungkin kamu tidak mencintai dirinya. Mungkin kamu tidak menyukai dirinya, tapi syukurlah kalau begitu, sehingga aku tidak perlu bersaing denganmu untuk bisa memilikinya” –Milea.
“Ah, cemburu itu hanya untuk orang yang enggak percaya diri” – Dilan.
“Jangan rindu. Berat. Kau gak akan kuat. Biar aku saja” – Dilan.
-nafadyas-
Share:

BLOGGER PROFILE

My Photo
Nafa Dyas
An ordinary fifteen years old girl who loves books so much. A fast texter, but if she doesn't answer your calls, she's either reading, or, dying.
View my complete profile

Looking for something?

Popular Posts

Recent Posts

(Current) Top 5 Favorite Series

  • Harry Potter
  • Percy Jackson and The Olympians
  • Heroes of Olympus
  • School for Good and Evil
  • Johan

Reading Challenge 2017

2017 Reading Challenge

2017 Reading Challenge
Nafa has read 6 books toward her goal of 60 books.
hide

Followers

Translate